Cara Bagi Hasil Usaha Untuk Pemodal dan Pengelola

Mau Beli Paket Usaha tapi Tidak Punya Modal? Begini Cara Gandeng Partner Pemodal Tanpa Ribut di Belakang

Narasumber: Soraya Maheswari — Founder Cek Usaha Dulu

Sudah menemukan paket usaha yang menarik, sudah punya waktu untuk menjalankannya, bahkan sudah menemukan lokasi yang menurut Anda potensial, tetapi ada satu masalah: modalnya belum cukup.

Apakah artinya rencana membuka usaha harus ditunda? Belum tentu.

Selama ini banyak orang menganggap bahwa untuk memulai usaha, orang tersebut harus mempunyai seluruh modal sendiri. Akibatnya, banyak calon pengusaha berhenti bahkan sebelum mencoba.

Padahal ada alternatif lain yang bisa dipertimbangkan, yaitu menggandeng partner pemodal.Sederhananya, ada dua pihak yang bekerja sama.

  • Satu orang mempunyai uang tetapi tidak mempunyai cukup waktu untuk menjalankan usaha.
  • Satu orang lainnya mungkin tidak mempunyai modal besar, tetapi mempunyai waktu, kemampuan, dan kemauan untuk mengelola bisnis.

Jika struktur kerja samanya dibuat dengan benar sejak awal, kedua pihak justru bisa saling melengkapi. Namun, masalah biasanya muncul ketika sejak awal tidak jelas:

  • Siapa yang keluar uang?
  • Siapa yang bekerja?
  • Siapa mendapatkan keuntungan berapa?
  • Apakah pengelola mendapat gaji?
  • Kalau usaha rugi, siapa yang menanggung?
  • Kalau salah satu partner ingin keluar, bagaimana?

Karena itu, jangan hanya fokus mencari orang yang mau memberikan modal. Yang lebih penting adalah membangun sistem kerja sama yang jelas sebelum usaha dimulai.

Tidak Punya Modal Bukan Berarti Tidak Bisa Memulai Paket Usaha

Misalnya Anda menemukan paket usaha makanan atau minuman dengan harga Rp20 juta. Tetapi setelah dihitung kembali, kebutuhan sebenarnya tidak hanya harga paket usaha. Contohnya:

  • Paket usaha: Rp 20 juta
  • Sewa tempat: Rp 10 juta
  • Deposit dan renovasi ringan: Rp 3 juta
  • Modal kerja awal: Rp 5 juta
  • Dana cadangan: Rp 2 juta

Total kebutuhan modal menjadi sekitar Rp 40 juta. Masalahnya, Anda hanya mempunyai Rp 5 juta.

Dalam kondisi seperti ini, kebanyakan orang mengambil salah satu dari dua pilihan: menunda usaha sampai uang terkumpul atau mencari pinjaman.

Padahal sebenarnya masih ada pilihan ketiga: mencari partner pemodal.

Bukan berarti Anda datang kepada seseorang lalu berkata: “Saya butuh Rp40 juta untuk buka usaha.”

Pendekatan seperti itu membuat posisi Anda terlihat seperti orang yang hanya sedang mencari uang. Pendekatannya sebaiknya berbeda. Anda datang membawa peluang bisnis yang sudah dianalisis dan siap dijalankan.

Misalnya: “Saya menemukan paket usaha yang menurut saya potensial. Total kebutuhan modal sekitar Rp40 juta. Saya sudah melakukan survei lokasi, mengetahui biaya operasionalnya dan saya sendiri yang akan menjalankan outlet setiap hari. Saya sedang mencari partner yang menyediakan modal dengan sistem kerja sama dan pembagian keuntungan yang jelas.”

Posisinya langsung berbeda. Anda bukan sekadar mencari pinjaman. Anda menawarkan sebuah kerja sama usaha.

Partner Pemodal dan Partner Pengelola Itu Berbeda

Dalam kerja sama seperti ini, kontribusi kedua orang tidak harus sama bentuknya. Misalnya:

Partner A: Pemodal

Partner A menyediakan uang untuk membuka bisnis. Kontribusinya bisa berupa:

  • Biaya membeli paket usaha
  • Biaya menyewa tempat
  • Pembelian peralatan
  • Modal kerja
  • Biaya renovasi
  • dana cadangan

Partner B: Pengelola

Partner B tidak mengeluarkan uang sebanyak Partner A, tetapi menjalankan bisnis. Kontribusinya bisa berupa:

  • Mencari lokasi;
  • Membuka dan menutup outlet
  • Mengelola karyawan
  • Memastikan stok
  • Menjalankan promosi
  • Melayani konsumen
  • Melakukan pencatatan
  • Membuat laporan
  • Menangani masalah operasional.

Inilah yang sering tidak dihitung. Orang menganggap modal hanya berupa uang. Padahal dalam usaha, waktu, tenaga, keterampilan, jaringan, pengalaman, kemampuan menjual dan kemampuan mengelola juga mempunyai nilai.

Contoh Kerja Sama Paket Usaha dengan Partner Pemodal

Contoh bagi hasil usaha antara partner pemodal dan partner pengelola
Dua contoh skema kerja sama: bagi hasil saja serta gaji ditambah bagi hasil untuk partner pengelola.

Bayangkan ada dua orang, Andi dan Budi. Andi mempunyai uang tetapi masih bekerja dan tidak mempunyai waktu menjalankan outlet. Budi belum mempunyai cukup modal, tetapi mempunyai waktu dan bersedia mengelola usaha setiap hari.

Mereka ingin membuka sebuah paket usaha dengan total kebutuhan modal Rp 40 juta. Andi menyediakan seluruh Rp 40 juta. Budi menjalankan outlet.

Pertanyaannya: Berapa bagian untuk Andi dan berapa untuk Budi? Jawabannya tidak mempunyai satu rumus yang berlaku untuk semua usaha. Tetapi ada beberapa model yang bisa digunakan.

Model 1: Bagi Hasil Keuntungan

Ini merupakan salah satu sistem yang paling mudah dipahami. Investor menyediakan modal. Pengelola menjalankan bisnis. Keuntungan bersih kemudian dibagi berdasarkan kesepakatan. Contohnya: Pemodal 60% dan Pengelola 40%

Tetapi yang harus diperjelas adalah istilah keuntungan bersih. Jangan sampai pemodal menganggap keuntungan dihitung dari omzet, sedangkan pengelola menghitung setelah semua biaya.

Misalnya omzet outlet bulan ini Rp 30 juta.

Biaya Operasional:

  • Bahan baku Rp 10 juta
  • Sewa Rp2 juta
  • Gaji karyawan Rp 5 juta
  • Listrik dan operasional Rp2 juta;
  • Marketing Rp1 juta.

Maka keuntungan bersihnya:

  • Rp 30 juta – Rp 20 juta = Rp10 juta.
  • Jika pembagiannya 60:40
  • Pemodal menerima Rp 6 juta.
  • Pengelola menerima Rp 4 juta.

Sistem seperti ini relatif sederhana dan cocok untuk beberapa jenis usaha kecil. Namun semuanya harus tetap tertulis.

Model 2: Pengelola Mendapat Gaji + Bagi Hasil

Ini bisa menjadi pilihan jika pengelola benar-benar bekerja aktif setiap hari. Mengapa? Karena kepemilikan usaha dan pekerjaan adalah dua hal berbeda.

Misalnya jika pengelola tidak ada, perusahaan harus menggaji orang lain untuk menjadi kepala outlet atau manager. Artinya pekerjaan tersebut memang mempunyai nilai. Contohnya: Pengelola memperoleh gaji Rp3 juta per bulan.

Setelah seluruh biaya termasuk gaji tersebut dikurangi, laba bersih kemudian dibagi. Misalnya: Pemodal 70% dan Pengelola 30%

Skema seperti ini membuat posisi masing-masing lebih jelas. Gaji adalah bayaran karena bekerja. Bagi hasil adalah imbalan berdasarkan hasil usaha.

Model 3: Pemodal Mendapat Kepemilikan, Pengelola Mendapat Sweat Equity

Kalau target bisnis bukan hanya membuka satu outlet, tetapi ingin membangun usaha jangka panjang, bisa digunakan konsep sweat equity. Sweat equity sederhananya adalah kepemilikan yang diperoleh melalui kontribusi kerja, bukan hanya melalui uang.

Contohnya disepakati:

  • 70% nilai usaha berasal dari modal;
  • 30% merupakan bagian yang bisa diperoleh pengelola karena membangun dan menjalankan bisnis.

Pemodal yang menyediakan seluruh uang mendapat 70%. Pengelola mempunyai peluang memperoleh 30%. Namun, sebaiknya 30% tersebut tidak langsung diberikan semuanya pada hari pertama.

Mengapa? Bayangkan pengelola mendapat 30% saham pada hari pertama. Dua bulan kemudian dia memutuskan berhenti. Apakah dia tetap boleh membawa 30% kepemilikan?

Situasi seperti inilah yang sering menjadi awal konflik.

Contoh pembagian kepemilikan usaha berdasarkan modal dan kontribusi kerja partner
Contoh skema pembagian kepemilikan ketika satu partner menyetor modal dan partner lain juga aktif mengelola usaha.

Gunakan Sistem Vesting Agar Partner Pengelola Tidak Langsung Mendapat Semua Kepemilikan

Salah satu mekanisme yang bisa dipertimbangkan adalah vesting. Misalnya pengelola berhak mendapatkan maksimal 30% kepemilikan setelah menjalankan bisnis selama tiga tahun. Contohnya:

  • Tahun pertama: 10%
  • Tahun kedua: tambahan 10%, total 20%
  • Tahun ketiga: tambahan 10%, total 30%
  • Dengan demikian, kepemilikan diperoleh secara bertahap.

Bisa juga ditambahkan syarat performa. Misalnya:

  • Laporan keuangan tertib
  • Outlet tetap berjalan
  • Target tertentu tercapai
  • Tidak meninggalkan operasional tanpa alasan
  • Menjalankan SOP yang sudah disepakati.

Skema seperti ini membuat kepentingan pemodal dan pengelola lebih seimbang. Pemodal tidak merasa memberikan sebagian bisnis kepada seseorang yang belum terbukti menjalankannya. Pengelola juga mempunyai kesempatan membangun kepemilikan dari hasil kerja yang dilakukan.

Catatan: Struktur saham, vesting, bagi hasil, pajak dan perjanjian memiliki konsekuensi hukum yang berbeda. Untuk penerapan sebenarnya, sebaiknya perjanjian ditinjau oleh notaris, akuntan atau penasihat hukum yang memahami struktur usaha Anda.

Jangan Samakan Omzet dengan Keuntungan

Salah satu sumber konflik paling sering dalam kerja sama usaha adalah angka. Misalnya outlet menghasilkan omzet Rp 50 juta sebulan.

Kemudian pemodal melihat angka tersebut dan berpikir: “Wah, berarti bisnis menghasilkan Rp 50 juta” Padahal omzet bukan keuntungan. Masih ada:

  • bahan baku
  • gaji
  • sewa
  • listrik
  • aplikasi delivery
  • komisi marketplace
  • promosi
  • kerusakan
  • penyusutan peralatan
  • pajak
  • biaya tidak terduga

Karena itu, sebelum bekerja sama harus disepakati: Pembagian dihitung dari omzet atau keuntungan bersih? Untuk sebagian besar kerja sama usaha, menggunakan keuntungan bersih yang definisinya sudah disepakati akan lebih masuk akal.

Partner Pengelola Wajib Memberikan Laporan

Kalau pemodal tidak ikut menjaga outlet setiap hari, maka transparansi menjadi sangat penting. Minimal pengelola harus mampu menunjukkan:

  • omzet harian
  • transaksi
  • biaya bahan baku
  • pengeluaran
  • stok
  • gaji
  • saldo rekening
  • keuntungan atau kerugian

Semakin besar uang yang dilibatkan, semakin buruk jika pencatatan hanya mengandalkan WhatsApp atau ingatan. Usahakan semua transaksi usaha mempunyai pencatatan sendiri. Idealnya juga gunakan rekening usaha yang terpisah dari rekening pribadi.

Tentukan Siapa yang Boleh Mengambil Keputusan

Mengelola usaha bukan berarti mempunyai kebebasan tanpa batas. Keputusan operasional sehari-hari mungkin bisa diberikan kepada partner pengelola. Misalnya:

  • jadwal karyawan
  • pembelian stok rutin
  • aktivitas promosi harian
  • pelayanan pelanggan

Tetapi keputusan besar sebaiknya membutuhkan persetujuan bersama. Contohnya:

  • mengambil pinjaman
  • menambah investor
  • pindah lokasi
  • membuka cabang
  • menjual aset besar
  • mengubah konsep bisnis
  • mengambil uang dalam jumlah besar
  • menutup usaha.

Semuanya sebaiknya dijelaskan sejak awal

Sebelum Cari Partner Pemodal, Siapkan Ini Dulu

Kesalahan terbesar adalah mencari investor ketika Anda sendiri belum memahami bisnis yang ingin dijalankan. Sebelum menawarkan kerja sama paket usaha, minimal siapkan beberapa hal berikut.

1. Pilih Paket Usaha yang Masuk Akal

Jangan hanya melihat brosur. Pelajari:

  • produk
  • harga jual
  • target pasar
  • kebutuhan lokasi
  • kompetitor
  • biaya bahan
  • margin
  • dukungan pemilik brand

2. Hitung Total Modal Sebenarnya

Jangan hanya menghitung harga paket. Hitung juga biaya:

  • tempat
  • listrik
  • deposit
  • karyawan
  • marketing
  • modal kerja
  • izin
  • dana darurat

3. Survey Lokasi

Pemodal akan lebih tertarik melihat rencana konkret dibanding ide.

Contohnya: “Rencana lokasinya di depan sekolah dengan traffic sekian.” jauh lebih kuat dibanding: “Nanti lokasi dicari kalau modalnya sudah ada.”

4. Buat Simulasi Penjualan

Jangan hanya menggunakan skenario optimistis. Buat minimal tiga kemungkinan:

  • Konservatif – Penjualan rendah
  • Normal – Penjualan sesuai estimasi.
  • Optimistis – Penjualan bagus.

Dengan begitu calon pemodal bisa melihat risikonya.

5. Tentukan Peran Anda

Jelaskan secara spesifik. Jangan hanya mengatakan: “Saya yang mengelola.”

Lebih baik: “Saya bertanggung jawab atas operasional outlet, stok, karyawan, laporan penjualan dan pemasaran lokal.” Ini terdengar jauh lebih profesional.

Cara Menawarkan Paket Usaha kepada Calon Partner Pemodal

Jangan mulai dari: “Ada uang Rp 40 juta nggak?”

Mulailah dari peluang. Contohnya: “Saya sedang mempelajari satu paket usaha FnB. Total kebutuhan modalnya sekitar Rp40 juta. Saya sudah survei lokasi dan menghitung biaya operasionalnya. Saya ingin menjalankan usahanya langsung, tetapi membutuhkan partner untuk modal. Kalau tertarik, saya bisa tunjukkan analisis dan skema kerja samanya.”

Kemudian tunjukkan:

  • produk
  • brand
  • lokasi
  • kebutuhan modal
  • estimasi biaya
  • simulasi penjualan
  • risiko
  • pembagian keuntungan
  • tugas masing-masing
  • skenario keluar dari bisnis

Calon investor biasanya tidak hanya bertanya: “Berapa untungnya?” Mereka juga ingin tahu: “Kalau gagal, apa yang terjadi?” Karena itu jangan hanya menjual mimpi. Jelaskan juga risikonya.

Cari Partner Pemodal di Mana?

Partner pemodal pertama tidak selalu harus investor profesional. Bisa berasal dari orang yang sudah mengenal kemampuan Anda. Misalnya:

  • teman
  • saudara
  • rekan kerja
  • mantan atasan
  • relasi bisnis
  • pemilik tempat
  • pengusaha lokal

Tetapi jangan menganggap hubungan dekat berarti perjanjian tidak diperlukan. Justru karena teman atau keluarga, sistemnya harus jelas. Tujuannya supaya hubungan personal tidak rusak ketika bisnis mengalami masalah.

Kesalahan yang Harus Dihindari Saat Patungan Paket Usaha

Ada beberapa pola yang sebaiknya dihindari.

Semua berdasarkan kepercayaan

  • “Tenang, kita teman.” Kepercayaan penting. Tetapi kepercayaan bukan pengganti perjanjian.

Tidak menentukan gaji pengelola

  • Akhirnya pengelola mengambil uang outlet sedikit demi sedikit karena merasa: “Saya kan kerja di sini.” Lama-lama pemodal merasa uang perusahaan digunakan sembarangan.

Tidak ada rekening terpisah

  • Uang bisnis bercampur dengan uang pribadi. Akhirnya tidak ada yang tahu perusahaan sebenarnya untung atau rugi.

Tidak membuat aturan ketika salah satu ingin keluar

  • Saat bisnis berjalan lancar semuanya baik-baik saja. Konflik biasanya muncul ketika seseorang ingin berhenti. Karena itu mekanismenya harus ditentukan sejak awal.

10 Pertanyaan yang Harus Dijawab Sebelum Kerja Sama Dimulai

Sebelum menerima uang dari partner, duduk bersama dan jawab pertanyaan berikut:

  1. Siapa memasukkan modal dan berapa jumlahnya?
  2. Siapa yang bertugas mengelola usaha?
  3. Apakah pengelola menerima gaji?
  4. Keuntungan dibagi dengan rumus apa?
  5. Kapan keuntungan dibagikan?
  6. Kalau rugi, bagaimana mekanismenya?
  7. Siapa yang mempunyai aset usaha?
  8. Kalau membutuhkan tambahan modal, siapa yang menyetor?
  9. Kalau salah satu partner ingin berhenti, bagaimana?
  10. Siapa yang boleh mengambil keputusan besar?

Kalau sepuluh pertanyaan ini belum bisa dijawab dengan jelas, sebaiknya jangan terburu-buru mulai.

Jadi, Apakah Bisa Memulai Paket Usaha Tanpa Punya Seluruh Modal Sendiri?

Jawabannya: bisa saja, selama ada pihak lain yang bersedia bekerja sama dan semua pihak memahami risiko serta hak dan kewajibannya. Tidak semua orang mempunyai uang tetapi banyak orang mempunyai kemampuan.

Sebaliknya, ada orang yang mempunyai uang tetapi tidak mempunyai waktu mengurus usaha. Ketika dua pihak tersebut bertemu, kerja sama bisa terjadi. Yang satu membawa modal uang. Yang satu membawa modal kerja, waktu, kemampuan dan tanggung jawab.

Menurut Soraya Maheswari, Founder Cek Usaha Dulu, calon pengusaha sebaiknya tidak berhenti hanya pada pertanyaan: “Saya punya modal berapa?”

Pertanyaannya bisa diperluas menjadi: “Sumber daya apa yang saya punya, apa yang masih kurang, dan siapa yang bisa melengkapinya?”

Namun mencari partner bukan berarti modal menjadi gratis. Anda mengganti kekurangan modal uang dengan tanggung jawab, waktu, transparansi dan kemampuan menjalankan bisnis.

Karena itu, partner yang mempunyai modal juga harus mendapatkan alasan yang masuk akal untuk mempercayakan uangnya kepada Anda.

Kesimpulan

Mau membeli paket usaha tetapi modal belum cukup tidak selalu berarti rencana harus berhenti. Salah satu alternatif yang dapat dipertimbangkan adalah bekerja sama dengan partner pemodal.

Tetapi jangan memulainya dengan kalimat: “Modalin saya.” Datanglah membawa bisnis yang sudah dipelajari.

  • Tunjukkan produk
  • Tunjukkan lokasi
  • Tunjukkan hitungannya
  • Jelaskan siapa yang menjalankan
  • Jelaskan bagaimana keuntungan dibagi
  • Jelaskan pula apa yang akan terjadi jika bisnis tidak sesuai harapan

Dengan begitu Anda tidak datang sebagai orang yang sedang meminta uang. Anda datang sebagai orang yang membawa peluang bisnis yang siap dikerjakan bersama.

Dan yang paling penting: semua kesepakatan harus dibuat ketika hubungan masih baik, bukan ketika masalah sudah muncul.

FAQ: Paket Usaha dan Partner Pemodal

  • Apakah bisa membuka paket usaha tanpa modal sendiri?

Bisa melalui kerja sama dengan pihak lain yang menyediakan sebagian atau seluruh modal. Namun struktur keuntungan, tanggung jawab, risiko dan kepemilikan perlu disepakati sejak awal.

  • Apakah pemodal harus mendapatkan saham?

Tidak selalu. Kerja sama bisa berbentuk bagi hasil, pinjaman, kepemilikan saham atau kombinasi beberapa skema, tergantung kesepakatan dan struktur badan usaha.

  • Kalau saya yang menjalankan usaha, apakah boleh mendapat gaji?

Bisa. Gaji dapat dianggap sebagai pembayaran atas pekerjaan operasional, sedangkan keuntungan atau kepemilikan merupakan hal yang berbeda.

  • Bagaimana cara membagi keuntungan dengan investor?

Tidak ada angka baku. Pembagian perlu mempertimbangkan jumlah modal, tingkat risiko, beban kerja, tanggung jawab masing-masing dan kesepakatan kedua pihak.

  • Apakah kerja sama dengan teman tetap membutuhkan perjanjian?

Sebaiknya iya. Perjanjian justru membantu menjaga hubungan dengan membuat hak, kewajiban dan mekanisme penyelesaian masalah menjadi lebih jelas.

  • Apa yang harus ditunjukkan kepada calon partner pemodal?

Minimal tunjukkan paket usaha yang dipilih, kebutuhan modal, lokasi, estimasi biaya, simulasi penjualan, risiko, tugas pengelola dan skema pembagian keuntungan.


Tentang Narasumber

Soraya Maheswari adalah Founder Cek Usaha Dulu, platform yang mengangkat edukasi dan analisis sebelum seseorang memutuskan memulai atau memilih peluang usaha. Pendekatan Cek Usaha Dulu menekankan pentingnya memahami angka, risiko, model bisnis, serta kecocokan peluang usaha sebelum mengambil keputusan.