Kerja sama bisnis sering dimulai dalam keadaan menyenangkan. Pemodal percaya kepada pengelola. Pengelola bersemangat menjalankan usaha. Keduanya merasa: “Kita sudah saling kenal, tidak perlu terlalu formal.”
Masalah biasanya baru muncul beberapa bulan kemudian. Misalnya omzet turun. Pengelola merasa sudah bekerja keras. Pemodal merasa uangnya tidak menghasilkan sesuai harapan. Kemudian mulai muncul pertanyaan:
- Siapa sebenarnya mempunyai aset?
- Pengelola boleh mengambil gaji atau tidak?
- Kalau usaha rugi siapa yang menanggung?
- Kalau salah satu ingin berhenti, bagaimana?
Karena itu, kesepakatan sebaiknya dibuat sebelum uang masuk dan sebelum outlet mulai berjalan.
Kenapa Perjanjian Pemodal dan Pengelola Penting?
Perjanjian bukan dibuat karena kedua pihak tidak saling percaya. Justru perjanjian membantu menjelaskan apa yang sudah disepakati sehingga masing-masing pihak tidak mempunyai tafsir sendiri. Untuk kerja sama paket usaha, perjanjian minimal perlu menjelaskan modal, pekerjaan, laba, kerugian, aset, laporan dan mekanisme keluar.
Artikel ini bersifat edukasi, bukan pengganti dokumen hukum. Jika kerja sama melibatkan nilai yang cukup besar atau struktur kepemilikan tertentu, sebaiknya dokumen diperiksa oleh notaris atau penasihat hukum.
1. Identitas Para Pihak
Tuliskan identitas pihak yang bekerja sama secara jelas. Misalnya:
- Pihak Pertama: pemodal.
- Pihak Kedua: pengelola.
Cantumkan identitas sesuai dokumen resmi. Jika kerja sama dilakukan melalui badan usaha, identitas dan kewenangan pihak yang menandatangani juga perlu diperjelas.
2. Tuliskan Tujuan Kerja Sama
Jelaskan kerja sama dibuat untuk apa. Misalnya: membuka dan menjalankan satu outlet usaha makanan atau minuman berdasarkan paket usaha tertentu di lokasi yang telah disepakati.
Tujuannya agar ruang lingkup kerja sama jelas. Jangan sampai satu pihak menganggap kesepakatan hanya untuk satu outlet, sementara pihak lain menganggap berlaku untuk seluruh cabang berikutnya.
3. Jelaskan Modal yang Disetor
Tuliskan:jumlah modal, bentuk modal, waktu penyetoran dan penggunaannya.
Misalnya pemodal menyediakan Rp 40 juta. Dana dialokasikan untuk: paket usaha, sewa tempat, renovasi, modal kerja dan promosi awal.
Jika pengelola juga menyetor uang, tuliskan nominalnya.
4. Siapa Pemilik Aset?
Ini sering dilupakan. Misalnya dari modal dibeli: booth, freezer, mesin, kompor, meja, komputer kasir dan perlengkapan.
Kalau kerja sama berhenti, barang tersebut milik siapa? Jangan menunggu usaha tutup baru membicarakan hal ini. Status kepemilikan aset sebaiknya sudah tertulis dari awal.
5. Tugas Pemodal
Contohnya: Pemodal menyediakan dana sesuai kesepakatan dan berhak menerima laporan. Apakah pemodal boleh ikut menentukan operasional harian? Harus diperjelas.
Pada banyak kerja sama, pemodal lebih berperan dalam keputusan strategis sementara pengelola bertanggung jawab pada kegiatan harian. Tetapi semuanya bergantung kesepakatan.
6. Tugas Pengelola
Tuliskan pekerjaan pengelola secara konkret. Misalnya: mengelola outlet, mengatur karyawan, memastikan stok, menjaga kualitas pelayanan, menjalankan promosi lokal, membuat laporan dan menjaga aset usaha.
Hindari kalimat terlalu umum seperti: “Pihak kedua bertanggung jawab mengurus usaha.”
Semakin spesifik, semakin kecil kemungkinan muncul beda tafsir.
7. Apakah Pengelola Mendapat Gaji?
Ini harus dibicarakan sejak awal. Pengelola yang bekerja setiap hari mempunyai tanggung jawab operasional.
Karena itu bisa saja disepakati pengelola menerima gaji. Misalnya Rp 3 juta per bulan. Gaji tersebut dimasukkan sebagai biaya usaha. Setelah semua biaya dikurangi, barulah laba bersih dibagikan sesuai persentase yang disepakati.
8. Bagaimana Pembagian Laba?
Misalnya, laba bersih dibagi:
- Pemodal 60%.
- Pengelola 40%.
Yang paling penting bukan hanya persentasenya. Definisikan laba bersih. Contohnya: pendapatan usaha setelah dikurangi bahan baku, gaji, sewa, listrik, marketing, komisi platform, pajak serta biaya operasional yang telah disepakati.
Tanpa definisi yang jelas, satu pihak bisa menghitung keuntungan berdasarkan omzet sementara pihak lain menghitung setelah biaya.
9. Bagaimana Kalau Usaha Rugi?
Perjanjian juga harus membahas kondisi buruk. Misalnya:
- Bagaimana kerugian dicatat?
- Apakah perlu tambahan modal?
- Siapa yang mempunyai kewajiban menyediakan tambahan modal?
- Apakah kedua pihak wajib menambah modal atau hanya jika disetujui?
Jangan membuat aturan hanya untuk kondisi ketika bisnis menghasilkan uang.
10. Mekanisme Laporan Keuangan
Contohnya: pengelola memberikan laporan setiap bulan.
Laporan dapat mencakup: penjualan, pembelian bahan, gaji, biaya operasional, laba rugi dan saldo kas.
Pemodal juga sebaiknya mempunyai akses terhadap data yang relevan.
11. Keputusan Apa yang Harus Disetujui Bersama?
Pengelola membutuhkan ruang mengambil keputusan harian. Tetapi keputusan strategis perlu mempunyai aturan.
Contohnya: mengambil pinjaman, membuka cabang, pindah lokasi, menambah modal, mengganti konsep, menjual aset utama atau menerima investor baru.
Bisa dibuat aturan bahwa keputusan tersebut harus disetujui kedua pihak.
12. Aturan Keluar dari Kerja Sama
Ini salah satu bagian terpenting. Misalnya satu tahun kemudian pengelola ingin berhenti. Apa yang terjadi? Atau investor membutuhkan uangnya kembali:
- Apakah ia boleh langsung menarik modal?
- Bagaimana valuasi bisnis?
- Bagaimana aset dihitung?
- Apakah partner lain mempunyai hak membeli terlebih dahulu?
Aturan keluar sebaiknya dibuat ketika hubungan masih baik.
13. Apa yang Terjadi Jika Pengelola Tidak Menjalankan Kewajibannya?
Contohnya: tidak membuat laporan, meninggalkan outlet, menggunakan uang usaha untuk kebutuhan pribadi atau melanggar kesepakatan.
Tentukan mekanisme teguran dan langkah berikutnya. Hal yang sama juga berlaku jika pemodal tidak memenuhi komitmen pendanaan.
14. Penyelesaian Perselisihan
Bisa dimulai dengan musyawarah. Jika tidak selesai, perjanjian dapat mengatur tahap berikutnya sesuai kesepakatan dan ketentuan hukum yang berlaku.
Untuk klausul hukum formal, gunakan bantuan profesional.
Struktur Sederhana Perjanjian
Secara garis besar dokumennya dapat berisi: judul perjanjian, identitas para pihak, tujuan kerja sama, modal, aset, tugas para pihak, gaji, pembagian laba, laporan, kewenangan, tambahan modal, aturan keluar, pelanggaran, penyelesaian sengketa, masa berlaku dan tanda tangan.
Namun jangan hanya mengambil template internet lalu mengganti nama. Kondisi setiap usaha berbeda.
Kesimpulan
Kerja sama yang sehat bukan hanya soal pembagian keuntungan. Yang jauh lebih penting adalah memastikan kedua pihak memahami:
- siapa memasukkan apa,
- siapa mengerjakan apa,
- siapa memperoleh apa dan
- apa yang terjadi ketika kondisi tidak sesuai rencana.
Jika semua itu tertulis sejak awal, kemungkinan konflik dapat dikurangi. Langkah selanjutnya adalah memahami dengan benar cara menghitung bagi hasil usaha agar kedua pihak menggunakan angka yang sama.
FAQ
- Apakah kerja sama dengan teman perlu perjanjian?
Sebaiknya tetap ada. Hubungan dekat bukan alasan untuk membuat hak dan tanggung jawab menjadi tidak jelas.
- Apakah perjanjian harus dibuat notaris?
Kebutuhannya bergantung pada struktur kerja sama dan bentuk badan usaha. Untuk memastikan dokumen sesuai kebutuhan hukum, konsultasikan dengan profesional.
- Apakah aset otomatis menjadi milik pemodal?
Tidak bisa diasumsikan begitu saja. Status aset perlu ditentukan dalam kesepakatan.





